Kebangkitan Yesus sebagai Tanda Penerimaan Bapa

  • Kitab Suci tidak memberi laporan tentang bagaimana persisnya Yesus bangkit dari kematian. Dan tidak ada saksi mata yang melihat bagaimana Yesus bangkit dari kematian. Kitab Suci hanya menunjukkan tanda-tanda yang diyakini sebagai tanda kebangkitan Yesus yaitu batu penutup kubur Yesus terguling, para murid mendapati kubur Yesus kosong dan jenazah Yesus tidak ditemukan, kain kafan yang tergeletak di tanah, berita dari malaikat yang mengatakan bahwa Yesus sudah bangkit (lih. Mrk 16:1-8; Luk 24:1-12; Yoh 20:1-10). 
  • Bukti yang menunjukkan bahwa Yesus telah bangkit adalah beberapa kali peristiwa penampakan Yesus pada murid-murid-Nya: penampakan Yesus pada Maria Magdalena (lih. Mat 28:9-10; Mark 16:9, Yoh 20:11-18), Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus (lih Luk 24:13-35), Yesus menampakkan diri kepada semua murid-Nya (lih. Luk 24:36-49), Yesus menampakkan diri kepada Tomas (lih. Yoh 20:24-29), Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di Pantai Danau Tiberias (lih. Yoh 21:1-14), Yesus beberapa kali menampakkan diri dan mengutus murid-murid-Nya (lih. Mat 16:9-20).
  • Dalam cerita penampakan itu terlihat bahwa kehadiran Yesus sungguh dirasakan. Yesus yang hadir di tengah mereka seakan-akan tak berbeda dengan Yesus yang mereka jumpai selama ini. Perjumpaan dengan Yesus tidak hanya mengingatkan mereka atas apa yang selama ini pernah mereka alami bersama Yesus, tetapi menguatkan iman mereka. 
  • Penampakan yang dialami para murid-Nya mampu menghalau kegelisahan, ketakutan hari-hari terakhir setelah Yesus ditangkap, disalibkan, dan wafat yang masih menyelimuti hati mereka. Yesus sungguh hadir di tengah-tengah mereka, membuat mereka semakin percaya akan apa yang diwartakan semasa hidup-Nya bersama mereka. Penampakan Yesus membuat mereka merasa juga ikut dibangkitkan dari keyakinan mereka yang goyah karena peristiwa salib, sehingga mereka menjadi lebih berani dan tidak sembunyi-sembunyi lagi dalam beriman kepada-Nya.
  • Bagi orang Yahudi segala kemalangan di dunia ini adalah hukuman untuk dosa (bdk. Yoh 9:1-2), apalagi kematian. Maka dengan kematian Yesus di kayu salib, bagi kebanyakan orang Yahudi pada zaman-Nya, Yesus dianggap gagal, sia-sia dan seluruh karya-Nya seolah-olah musnah seiring dengan kematian-Nya. Dengan kematian-Nya, seolah-olah Yesus tidak diperhitungkan lagi. 
  • Tetapi dengan peristiwa kebangkitan-Nya dari alam maut, Allah membalikkan semua pemikiran tersebut. Yesus yang bangkit adalah Yesus yang hadir di tengah umat manusia dalam kemuliaan-Nya.
  • Dalam tubuh-Nya yang mulia, Ia dapat hadir tanpa dibatasi ruang dan waktu. Yesus dapat hadir dimana saja dan kapan saja, dan kepada siapa saja yang percaya kepada-Nya. Kehadiran-Nya mampu mempengaruhi hati manusia, menjadi semangat dan inspirasi hidup bagi banyak orang. Melalui kebangkitan-Nya orang tidak hanya mengenang karya dan ajaran-Nya tetapi menjadikan Dia sebagai kekuatan hidup sehari-hari. 
  • Kebangkitan Yesus merupakan pembenaran dari Allah terhadap sabda dan karya-Nya; pembenaran terhadap perjuangan Yesus.
  • Kebangkitan Yesus juga memberi harapan baru bagi umat manusia; bahwa ada harapan yang lebih baik setelah kematian di dunia ini.
  • Berulang kali dikatakan, bahwa “Allah yang membangkitkan Tuhan, akan membangkitkan kita juga oleh kuasa-Nya” (1Kor 6:14; lih. 2Kor 4:14; Rm 8:11). ”Jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa Allah akan – demi Yesus – membawa mereka yang telah meninggal, bersama-sama dengan Dia” (1Tess 4:14). “Kristus disalibkan oleh karena kelemahan (kita), namun Ia hidup karena kuasa Allah. Begitu pula kami adalah lemah dalam Dia (dan mati bersama dengan Dia), tetapi kami akan hidup bersama dengan Dia karena Allah” (2Kor 13:4).
  • Kehadiran Yesus yang bangkit sering sulit ditangkap oleh pikiran manusia, seperti yang dialami dua murid dalam perjalanan ke Emaus (lih. Luk 24:13-35). Banyak orang memahami kematian hanya sebatas kematian fisik. Orang yang “mati” diartikan orang yang tidak bernafas lagi, tidak dapat beraktivitas lagi. 
  • Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menemukan orang yang “mati’ sekalipun masih hidup. Orang yang ‘mati” adalah orang yang sudah putus harapan, orang yang tidak mampu memperbaiki kehidupannya, keberadaannya di tengah-tengah masyarakat sudah tidak diperhitungkan lagi, mereka dianggap tidak ada atau “mati” walaupun secara fisik ia masih hidup dan hadir di tengah banyak orang.
  • Tetapi orang yang “hidup” atau orang yang “bangkit” adalah orang yang mampu keluar dari keterpurukan, mampu kembali menata hidupnya meski dia telah jatuh dalam kehancuran. Ia bangkit kembali dari penderitaan atau kegagalan, sehingga kehadirannya akan selalu hidup dan dikenang karena mampu memberi inspirasi bagi banyak orang untuk menghasilkan karya-karya besar yang berguna bagi kehidupan manusia. 
  • Seperti Suster Teresa meski ia telah meninggal, nama dan karyanya tetap hidup dalam hati setiap orang yang peduli terhadap karya kemanusiaan dan karya belas kasih pada sesama yang menderita. Suster Teresa mampu “membangkitkan” orang yang telah “mati” karena tidak lagi memiliki harapan akibat penderitaan. Melalui karya belas kasih yang dilakukannya ia mampu membangkitkan orang dari keterpurukan hidup. Memberi mereka semangat dan motivasi bahwa masih ada harapan untuk memulai dan menata kehidupan yang lebih baik. 
  • Sebagai pengikut Yesus, Suster Teresa selalu berusaha meneladani Yesus, yang semasa hidupnya selalu memberikan kasihnya kepada semua orang, Ia membangkitkan harapan pada mereka yang miskin, yang tertindas, yang diperlakukan secara diskriminatif oleh masyarakat baik karena rasial, gender atau karena penyakit. 
  • Demikian juga halnya dengan kita sebagai murid Kristus, dalam hidup sehari-hari hendaknya kita mampu menghadirkan Kristus melalui kata-kata dan perbuatan kita kepada sesama. 
  • Menghayati dan mewujudkan kebangkitan Kristus tidak harus melalui karya-karya yang besar dan spektakuler. Menjadi sahabat bagi yang mengalami kesedihan dan masalah, memberi dukungan pada mereka yang putus harapan, membangkitkan semangat pada mereka yang lemah dan tak berdaya adalah wujud sederhana yang dapat kita lakukan. Dengan demikian kita dapat menjadi saksi kebangkitan Kristus melalui kata-kata dan perbuatan kita dalam hidup sehari-hari!

 

Dukung website ini dengan subscribe Channel YouTube Aendy Da Saint:

Leave a Reply

Your email address will not be published.