Kemampuanku Terbatas

  • Pengalaman akan keterbatasan kemampuan diri sesungguhnya merupakan pengalaman yang kerap kali dialami. Walaupun demikian, kita dapat melihat dua sikap yang sering muncul menghadapi keterbatasan.
  • Sikap pertama, sikap menerima dan mengakui. Sikap positif ini akan berdampak pada kemampuan untuk mengatasi keterbatasan dengan positif pula: belajar lebih keras, belajar dari orang lain, tidak minder, dan sebagainya.
  • Sikap kedua adalah sikap tidak mengakui, bahkan menutup-nutupi keterbatasan. Sikap negatif ini umumnya akan mengantar orang pada sikap dan tindakan munafik, berpura-pura, iri hati akan keberhasilan orang lain, berusaha menjatuhkan orang lain, minder, kurang percaya diri, kadang menghalalkan segala cara untuk menutupi keterbatasan dirinya.
  • Iman Kristiani mengajarkan bahwa pengalaman keterbatasan merupakan pengalaman yang tak dapat diingkari. Manusia adalah makhluk yang fana, yang terbatas. Manusia diciptakan dalam kesempurnaan, tetapi yang juga mempunyai keterbatasan.
  • Keterbatasan yang dimiliki dalam bentuk apa pun sesungguhnya menyiratkan suatu panggilan kepada setiap manusia untuk berelasi dengan sesama, bekerja sama saling melengkapi dan saling mengembangkan demi kepenuhannya.
  • Tetapi yang menjadi penting adalah bagaimana pengalaman keterbatasan tersebut disikapi secara benar, yakni berupaya mengatasi dengan mencari sumber kekuatan dan kesempurnaan sejati, yakni Allah sendiri. Sikap semacam ini, dapat direfleksikan dari kisah Yesus meredakan angin ribut dalam Mrk. 4:35-41, atau beberapa kisah lainnya, seperti Mrk. 6: 35-44, dan Luk. 5: 1-11.
  • Ketika sadar akan keterbatasan kemampuan, ada sebagian orang menjadi bingung, bahkan ada pula yang menyalahkan Tuhan. Para murid Yesus rupanya mengalami hal yang kurang lebih sama. Mereka bingung dan menyalahkan Yesus seolah-olah Yesus tidak peduli dengan nasib mereka, seperti nampak dalam ungkapan: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Mungkin dalam bahasa manusia sekarang hal tersebut dapat berbunyi: “mengapa saya tidak dilahirkan dengan wajah cantik/ganteng? Mengapa orang tua saya miskin? Mengapa saya tidak sepintar dia? Mengapa Engkau menciptakan aku dalam keadaan cacat?”
  • Tetapi ada hal yang menarik dari kutipan tersebut. Ketika sadar akan keterbatasan kemampuannya, para murid Yesus pergi mencari pertolongan Yesus. Mereka sadar bahwa saat menghadapi keterbatasan, manusia perlu memberanikan diri memnita bantuan orang lain, terutama Tuhan.
  • Ada dua pesan yang kuat yang tersampaikan dalam kisah Yesus meredakan angin ribut:
    Pertama, menguatkan keyakinan iman kita, bahwa dibalik keterbatasan yang dimiliki pada setiap orang pada saat manusia diciptakan, Allah bermaksud supaya manusia dapat saling membantu dan bekerja sama satu sama lain untuk saling mengembangkan dan menyempurnakan. Bukan maksud Tuhan untuk bersikap tidak adil. Ketika dalam keluarga ada satu anggotanya yang cacat, misalnya, Tuhan hendak mengajari mereka untuk lebih peduli dan menyayangi anggota keluarga itu. Kita semakin diteguhkan jika saling membantu dan bekerja sama dalam keterbatasan masing-masing demi saling melengkapi dan mengembangkan diri.
    Kedua, pada akhirnya manusia harus sadar, bilamana mengalami keterbatasan diri ia harus mencari sumber kekuatan dan kesempurnaan sejati, yakni Tuhan Allah. Kenyataan tersebut dapat kalian lihat, mengapa pada saat-saat sulit orang tuamu atau kamu lebih rajin berdoa, supaya kamu lulus ujian banyak orang tuamu bermohon kepada Tuhan dengan bernovena.

    Catatan penting Buku Guru Kelas 7 K13

Aku Memiliki Kemampuan

  • Iman Kristiani menegaskan kepercayaan bahwa setiap manusia sejak awal diciptakannya sudah dibekali oleh Allah dengan berbagai kemampuan. Bekal itu diberikan supaya manusia dapat hidup dan berkembang menuju kesempurnaannya. 
  • Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak mempunyai kemampuan, sebab pada saat Allah menciptakannya, Ia sudah membekali manusia dengan berbagai kemampuan, walaupun kemampuan yang diberikan itu berbeda satu dengan yang lain. Tugas manusia adalah bertanya, mencari dan menemukan dalam dirinya kemampuan-kemampuan itu.
  • Setiap orang diberi kemampuan yang berbeda satu terhadap yang lain, sebab dengan perbedaan tersebut maka terjadilah apa yang dikehendaki Tuhan, yakni agar manusia saling membantu dan bekerja sama dalam memperkembang diri.
  • Ada kemampuan yang sifatnya umum dimiliki semua orang, ada yang sifatnya khusus. Semua orang dapat berlari, tetapi ada yang dapat cepat sehingga dapat meraih sukses lewat kemampuan larinya itu, ada yang biasa-biasa saja. Semua orang dapat bicara, tetapi ada yang beruntung dengan kemampuan bicaranya menghasilkan banyak uang, ada yang senang membicarakan orang lain, ada yang bicara seperlunya.
  • Kemampuan yang telah dianugerahkan Tuhan itu perlu dilatih dan dikembangkan, agar lebih bermanfaat. Tidak dapat langsung terampil tanpa berlatih. Kemampuan yang telah dianugerahkan Allah itu perlu disadari dan dikembangkan dengan sikap yang bertanggung jawab, sebab pada saatnya nanti, manusia harus mempertanggungjawabkan pemberian Tuhan itu. Gagasan inilah yang cukup jelas diungkapkan dalam perumpamaan tentang talenta (bdk. Mat 25: 14-30).
  • Perumpamaan tentang talenta memberi pesan yang cukup jelas. Kemampuan yang ada pada diri manusia merupakan anugerah Allah, bukan berasal dari diri manusia itu sendiri. Manusia harus bertanggung jawab terhadap pemberian Tuhan itu. Sikap bertanggung jawab ditunjukkan dengan berusaha keras mengembangkannya agar berbuah berlipat ganda, dan berguna bagi diri sendiri. Sebaliknya, bila manusia hanya membenamkan kemampuan yang telah diberikan itu, berarti manusia menyia-nyiakan anugerah itu, dan dan lama-kelamaan kemampuannya itu akan tumpul, bahkan akan hilang.
  • Banyak cara untuk mengembangkan kemampuan atau talenta, misalnya:
    – melatih diri terus-menerus tanpa takut salah atau gagal;
    – masuk dalam kelompok atau organisasi yang mempunyai minat yang sama sehingga dapat saling mengembangkan;
    – belajar dan berani bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman.
    – selain itu, perlu disertai dengan sikap-sikap berikut:
    – tidak mudah putus asa;
    – tekun;
    – disiplin;
    – berusaha dengan keras;
    – menyertakan Tuhan dalam setiap usaha.

Catatan penting dari Buku Guru Kelas 7 K13

Aku di Tengah Keluarga

Pertanyaan Mendasar:

1. Apa itu Keluarga?

2. Apa peranku dalam keluarga?

3. Apa pengaruh keluarga bagi perkembanganku?

4. Apa nasihat Kitab Suci tentang Keluarga?

Pembahasan:

1. Apa itu Keluarga?

Kata keluarga berasal dari kata Sansekerta “Kaluwarga” yang berarti “anggota”. Jadi secara paling sederhana, keluarga dapat diartikan sebagai ‘sebuah kelompok yang terdiri dari anggota-anggota’. Namun, pengertian itu tentu mengundang tanya, “Siapakah yang menjadi anggota dalam kelompok keluarga itu?” Kamus Besar Bahasa Indonesia menjawabnya dengan mengartikan keluarga sebagai “ibu dan bapak beserta anak-anaknya.”

Keluarga adalah sebuah lingkungan yang terdiri dari orang-orang yang memiliki hubungan darah (orangtua dan anak-anak) atau hubungan berdasarkan hukum (suami-istri, keluarga angkat) yang berinteraksi satu sama lain, memiliki peran, hak dan tanggungjawab masing-masing. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang menjadikan seseorang tumbuh dan berkembang. Dari segi sosial dan kemasyarakatan, keluarga adalah organisasi atau unit terkecil dalam masyarakat.

Secara umum, keluarga dapat dibedakan menjadi dua:

a. Keluarga Inti/Batih (Nuclear Family) yang terdiri atas suami, istri, dan anak-anak.

b. Keluarga Luas/Besar (Extended Family) yang terdiri dari kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, dll.

2. Apa peranku dalam keluarga?

Masing-masing kebudayaan memiliki pola otoritas yang berbeda-beda. Di Indonesia, pada umumnya suku-suku yang ada (kecuali Minangkabau yang menganut Matriarkal), menganut sistem Patriarkal. Dalam sistim Patriarkal, otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh laki-laki (laki-laki tertua, umumnya ayah). Sementara itu, dalam sistim Matriarkal, otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh perempuan (perempuan tertua, umumnya ibu). Ada lagi pola otoritas yang berbeda dari keduanya yaitu sistim Equalitarian di mana pada sistim itu suami dan istri berbagi pengaruh secara seimbang. Kamu dapat melihat dan menyimpulkan sendiri, pola otoritas mana yang dianut oleh keluargamu.

Di Indonesia, pada umumnya peran masing-masing anggota keluarga dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Ayah, sebagai suami dari istri dan bapak bagi anak-anaknya, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungan dimana dia hidup.

b. Ibu, sebagai istri dari suami dan ibu bagi anak-anaknya, mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai anggota masyarakat dari lingkungan dimana dia hidup. Di samping itu, ibu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.

c. Anak-anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, maupun spiritual. Anak kerap juga dilihat sebagai pelengkap kebahagiaan dalam keluarga.

3. Apa pengaruh keluarga bagi perkembanganku?

Keluarga memiliki fungsi rekreatif (biologis), fungsi spiritual, fungsi edukatif (pendidikan), fungsi afektif (kasih sayang), fungsi sosial, fungsi protektif dan fungsi ekonomi.

Ketika menjalankan fungsi rekreatif (biologis), keluarga adalah tempat untuk melanjutkan keturunan.

Ketika menjalankan fungsi spiritual, keluarga adalah tempat untuk membangun kepekaan spiritual anggota-anggotanya seperti menganut agama tertentu, membangun kebiasaan doa, kontemplasi, berderma, dll.

Ketika menjalankan fungsi edukatif (pendidikan), keluarga adalah tempat memberikan pengetahuan-pengetahuan dasar, memotivasi untuk belajar, membangun cita-cita akademis dan memberikan teladan berperilaku.

Ketika menjalankan fungsi afektif (kasih sayang), keluarga adalah tempat memberikan kasih sayang, membangun kepekaan perasaan, menghargai perasaan, dan membangun kepercayaan diri.

Ketika menjalankan fungsi sosial, keluarga adalah tempat membangun kepekaan sosial, belajar berelasi, berkomunikasi, sopan-santun, tata-krama dan respek kepada orang lain.

Ketika menjalankan fungsi protektif, keluarga adalah tempat berlindung yang aman bagi setiap anggotanya.

Ketika menjalankan fungsi ekonomi, keluarga adalah organisasi yang giat mencari nafkah, bekerja keras, menabung, berinvestasi, membangun dasar-dasar hidup yang efisien dan ekonomis dan mengajarkan prinsip-prinsip ekonomi yang mendasar bagi keturunan selanjutnya.

aendydasaint.com

Aku Citra Allah yang Unik

Untuk memahami pokok bahasan ini, ada empat kata kunci yang perlu kita dalami: Aku, Citra, Allah, dan Unik”.

“Aku”
Siapakah aku? Setiap orang punya jawaban masing-masing. Namun, apa pun jawabannya, ada satu kesamaan yang menyatukan kita semua. Manusia! Ya, kita semua adalah manusia. Nah, pertanyaan selanjutnya adalah siapakah manusia atau apakah manusia ini?

Alkitab memberikan jawaban:

Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kejadian 1:26)
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia: laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kejadian 1:27).

Dari Kitab Kejadian kita tahu, bahwa ternyata manusia itu adalah ciptaan Allah. Lebih hebatnya lagi, manusia bukan hanya ciptaan biasa melainkan ciptaan yang diciptakan dengan istimewa: menurut gambar Allah! Hmm, maksudnya? Kita bahas di kata kunci selanjutnya.

“Citra”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, citra adalah:
(1) rupa, gambar, gambaran
(2) gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi atau produk.

Singkat kata, citra itu adalah rupa/gambar/gambaran dari sesuatu. Citra itu memperlihatkan kepada kita gambaran dari sesuatu, tetapi citra bukanlah sesuatu itu sendiri. Contohnya adalah sebuah foto diri kita. Foto diri kita itu dengan sangat baik menggambarkan gambaran fisik kita, tetapi foto itu bukanlah diri kita. Foto itu hanyalah gambaran tentang diri kita.

Nah, jadi jika Allah menciptakan kita manusia menurut gambar-Nya, apa artinya? Itu berarti bahwa kita adalah gambaran dari Allah, tetapi kita bukanlah Allah. Allah menciptakan kita supaya semua yang melihat kita memiliki gambaran akan Allah, tetapi kita bukanlah Allah. Lalu, siapakah “Allah” ini?

“Allah”
Dari Kitab Kejadian, kita tahu bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi. Hm, lalu siapakah yang menciptakan Allah?

Dari iman kita, kita telah mengetahui bahwa Allah adalah Alfa dan Omega: Awal dan Akhir! Jadi tentu pertanyaan ‘siapakah yang menciptakan Allah?’ dapat dengan mudah kita jawab: Allah tidak diciptakan karena Dia adalah Sang Awal. Tentu tidak ada yang lebih awal dari Sang Awal, karena jika ada, maka Dia bukan lagi Sang Awal.

Lantas, bagaimana manusia bisa tahu tentang Dia? Dari mana iman itu berasal?

Allah terus menerus menuntun hidup manusia. Bahkan setelah manusia yang Dia ciptakan menurut gambar-Nya itu diusir-Nya dari taman Eden, Dia tetap berbicara dengan mereka. Dia bukan hanya berbicara dengan mereka, tetapi juga menuntun dan menyelamatkan mereka. Setelah keturunan Adam dan Hawa menjadi semakin banyak, Dia tetap berbicara kepada mereka dengan perantaraan para nabi. Dari nenek moyang inilah kita mengetahui siapa Allah itu dan apa yang telah Dia lakukan untuk kita. Betapa bersyukurnya kita bahwa nenek moyang iman kita ini (para nabi dan orang-orang pilihan-Nya) menuliskan semua hal penting yang harus kita ketahui tentang Dia dan menjadikannya buku. Buku itulah yang sekarang kita sebut sebagai Alkitab. Jadi, Allah secara terus menerus menawarkan Diri-Nya kepada manusia melalui banyak cara. Jika kita menanggapi-Nya, itulah iman.

Dalam Kitab Kejadian Allah mengatakan “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.“? Siapakah “Kita” itu?

Mari kita baca ayat dari Kitab Kejadian (1:1-3) berikut ini:

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan  air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.”

Setelah itu, kita baca juga kutipan Injil Yohanes berikut ini:

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikanFirman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Injil Yohanes 1:1-3.14).

Dari Kitab Kejadian kita dapat menyimpulkan bahwa ada tiga pribadi dalam penciptaan itu: (1) Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, (2) RohAllah melayang-layang di atas permukaan air, (3) Allah menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya.  Dari Injil Yohanes kita tahu bahwa ternyata, Firman itu adalah Tuhan Yesus, Sang Putra. Dan dari Tuhan Yesus kemudian kita menyapa Allah itu sebagai Bapa (saat Tuhan mengajarkan doa Bapa Kami). Jadi, “Kita” dalam Kitab Kejadian itu adalah Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Jadi, Allah itu ada tiga?

Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita baca Sabda Tuhan Yesus sendiri:

“Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30).
“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9).
“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus” (Mat 28:18-20).

Selain itu, kita lihat juga ajaran Rasul Yohanes dalam Suratnya yang pertama:

“Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu” (1 Yohanes 5:7).

Nah, dari Sabda Tuhan Yesus sendiri, dan dari ajaran Santo Yohanes Rasul, murid yang paling dikasihi-Nya, kita tahu bahwa ternyata Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah satu. Dari sinilah kemudian kita mengenal istilah “Allah Tritunggal”: satu Allah dalam tiga pribadi.

Koq sangat sulit untuk dipahami dan dijelaskan? Santo Agustinus pernah mengatakan bahwa  kalau kita mampu memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah. Dia yang Tak Terbatas tak akan pernah dapat dijelaskan secara sempurna oleh kita yang terbatas!

“Unik”

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, unik adalah “tersendiri dalam bentuk atau jenisnya; lain daripada yang lain; tidak ada persamaan dengan yang lain; khusus.”

Setiap orang itu uinik. Artinya, setiap orang itu khusus, lain daripada yang lain, tidak ada yang menyamainya.

KESIMPULAN

Aku Citra Allah yang Unik artinya adalah aku adalah manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, yang lain daripada yang lain. Aku istimewa, bukan hanya karena aku ini hanya ada satu di dunia ini, tetapi terlebih karena Allah menciptakanku supaya setiap orang yang melihatku mendapatkan gambaran tentang-Nya. Apapun pendapat orang tentangku, itu tidak dapat merenggut kebenaran yang melekat pada diriku: aku berharga karena aku adalah gambaran-Nya!

30102017/12:00 WITA
aendydasaint.com

Dukung website ini dengan subscribe Channel YouTube Aendy Da Saint:

Tugasku Sebagai Citra Allah

Mengapa Aku Diciptakan?

Pernahkan terbersit dalam pikiranmu, mengapa manusia diciptakan? Atau, pernahkah kalian merasa hampa dan merasa kehadiranmu di dunia ini tidak penting? Atau, adakah perbedaan jika ‘aku ada dan tiada’?

Bahasan tentang “Aku Citra Allah yang Unik” pada bahasan sebelumnya mungkin sedikit membantu kita dalam memahami misteri itu. Mungkin belum cukup. Namun, Alkitab punya banyak bukti bahwa kita semua ini berharga, dikasihi, diperhatikan dan istimewa!

Dari Kitab Kejadian kita tahu bahwa kita ini istimewa. Bagaiman tidak? Allah menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya sendiri! Saat Dia menciptakan ciptaan-ciptaan lain hanya dengan berfirman, “Jadilah terang”, “Jadilah cakrawala”, “Hendaklah segala air…”, khusus saat hendak menciptakan manusia, Dia berfirman, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Istimewa!

Mau bukti betapa kita berharga, dikasihi dan diperhatikan? Baca kutipan-kutipan berikut:

Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya (Matius 10:30).
Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu–sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya (Zakaria 2:8).
TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku (Mazmur 139:1).
Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku (Mazmur 23:1)
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Setelah membaca ayat-ayat di atas, kita tidak perlu ragu lagi tentang betapa kita istimewa dan kasihi Allah. Meskipun begitu, nampaknya itu belum membantu kita memecahkan misteri tentang alasan mengapa kita, manusia, diciptakan.

Untuk membantu kita mendalami pertanyaan besar itu, mari kita baca dulu kutipan Kitab Kejadian berikut ini:

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kejadian 1:26).

Dari kutipan di atas, khususnya pada frasa “supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan…”, sementara dapat kita simpulkan bahwa Allah menciptakan manusia supaya manusia berkuasa atas ciptaan-ciptaan lainnya. Nah, apa yang dimaksud dengan “berkuasa” ini? Bebas untuk berbuat semaunya atas ciptaan-ciptaan lainnya? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berkuasa berarti mempunyai kuasa (dalam berbagai arti seperti berkesanggupan, berkemampuan, berwenang, berkekuatan). Berkuasa dalam artian manakah manusia atas ciptaan lainnya? Mari kita baca kutipan Kitab Kejadian berikut ini:

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (Kejadian 2:15).

Nah! Ternyata manusia itu ditempatkan dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Kalau begitu, arti “berkuasa” tadi adalah manusia-lah yang sanggup, mampu/kuat dan berwenang dalam mengusahakan dan memelihara ciptaan-ciptaan lainnya. Dan, berwenang itu tentu sangat berbeda dengan semena-mena!

Lalu, apa tugasku sebagai Citra-Nya?

Dari alasan mengapa kita diciptakan, dapat dengan mudah kita simpulkan apa tugas kita sebagai manusia: mengusahakan dan memelihara ciptaan-Nya. Hanya manusialah, dengan akal budinya, yang sanggup dan berwenang untuk melakukan itu. Manusia mengusahakan alam dan isinya untuk kehidupannya dan di saat yang sama juga harus memeliharanya. Pada mulanya Allah menciptakan segala sesuatu itu baik adanya, maka tugas manusialah untuk memelihara itu supaya tetap baik adanya.

Lalu, sebagai Citra Allah? Tentu kita masih ingat penjelasan tentang foto dalam pembahasan sebelumnya. “Tugas” dari foto itu adalah untuk menggambarkan secara tepat apapun yang digambarkannya. Begitupun manusia. Karena manusia adalah gambar atau citra Allah, maka tugas manusia adalah untuk menggambarkan tentang Allah. Caranya? Ya seluruh hidupnya harus mencerminkan Allah. Karena Allah adalah sumber dari segala kebaikan, maka hidup manusia harus mencerminkan kebaikan. Tuhan Yesus sendiri berpesan, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16).

Setiap saat kita melihat sebuah foto seseorang, maka secara otomatis kita mengingat sosok nyata dari foto itu. Begitu juga seharusnya, setiap kali kita melihat seseorang, kita mengingat sosok yang sesungguhnya digambarkan olehnya: Allah sendiri. Dan tantangan-Nya adalah: setiap saat orang lain melihat kita, mereka seharusnya mengingat sosok yang sesungguhnya kita gambarkan: Allah sendiri. Sanggup? Bagaimana caranya? Tentu kata-kata yang manis memang dapat membantu kita mewartakan kebaikan Allah, namun sayangnya, orang akan lebih percaya dengan sikap dan tindakan baik yang kita lakukan.

Teruslah berbuat baik. Sekecil apapun. Berbuat baik tidak semudah niat. Perlu membiasakan diri untuk melakukannya. Seharusnya melakukan kebaikan tidaklah sulit, jika kamu percaya bahwa kamu diciptakan untuk mencerminkan Sang Kebaikan dan telah dilengkapi denga segala sesuatu yang kamu butuhkan untuk berbuat baik. You are loved to love!

01112017
10:42 WITA
aendydasaint.com