Kritis terhadap Ideologi dan Gaya Hidup

Dalam hidup modern dewasa ini, kita tidak dapat lepas dari berbagai pengaruh lingkungan, baik itu paham atau ideologi maupun aliran hidup yang ada dan berkembang saat ini. Terlebih seperti yang dialami oleh banyak kaum muda sekarang ini, tren apapun bentuknya mulai dari mode, musik, film, sampai pada berbagai gaya hidup lainnya, hingga perangkat teknologi, tak bisa dilepaskan pengaruhnya bagi kita. Tingkatan pengaruhnya sangat tergantung pada kedewasaan kita dalam menjalani dan menentukan pilihan. Pada pelajaran ini, kita akan mengamati berbagai pengaruh dari suatu ideologi, aliran/paham, dan tren-tren yang berkembang saat ini. Harapannya adalah bahwa kita harus bersikap kritis terhadap:

  1. Tren-tren yang sedang berkembang pesat pada saat ini, antara lain: materialisme, konsumerisme, individualisme, pluralisme, fundamentalisme, dan sebagainya. Tren-tren itupun dapat mempengaruhi kaum muda dalam usaha pencarian identitasnya.
  2. ideologi, paham-paham, dan aliran yang beranekaragam. Sebab, ideologi, paham-paham, dan aliran itu dapat melahirkan partai-partai politik atau sekte-sekte agama. Kaum muda sering dijadikan sasaran dari penyebaran dan perluasan ideologi atau paham-paham dan aliran.

Sewaktu hidupNya, Yesus bertemu dengan berbagai orang yang menganut macam-macam ideologi, paham dan aliran, misalnya kaum Farisi, kaum Saduki, kaum Esseni, dan kaum Zelot. Dalam menghadapi berbagai ideologi, paham, dan aliran tersebut, Yesus sudah memiliki sikap kritis. Yesus tetap pada pilihan-Nya (opsi-Nya), yaitu Kerajaan Allah. Yesus juga pernah dihadapkan kepada berbagai tawaran yang menggiurkan, seperti jaminan sosial ekonomi, kekuasaan, dan kesenangan, tetapi Yesus tetap menolaknya (Lihat Matius 4: 1-11). Pilihan (opsi) Yesus tetap pada mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah.

Pada zaman yang penuh tawaran ideologi, paham-paham, dan macam-macam godaan untuk berbagai jaminan sosial ekonomi dan politik serta kesenangan, kaum muda hendaknya membekali diri dengan sikap kritis, sehingga dapat menentukan pilihan dengan benar.

 

Tentang Gaya Hidup:

  • Dalam hidup modern dewasa ini, kita tidak dapat lepas dari berbagai pengaruh lingkungan, baik itu paham atau ideologi maupun aliran hidup yang ada dan berkembang saat ini.
  • Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan atau diperlihatkan dalam aktivitas, minat, dan pendapatnya yang berkaitan dengan citra dan status sosialnya.
  • Menurut KBBI, gaya hidup adalah pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat. Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilaku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial. Gaya hidup atau life style dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang memiliki karakteristik, kekhususan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu.
  • Gaya hidup bisa ditentukan oleh apa saja, mulai dari agama, profesi, zaman, teknologi, hobi, umur, jenis kelamin, idola, dan sebagainya. Semua itu terbentuk karena adanya kesamaan sejumlah manusia dalam menjalani hidupnya pada suatu jalan tertentu.
  • Bagi kaum muda sekarang ini, tren apapun bentuknya mulai dari mode, musik, film, sampai pada berbagai gaya hidup lainnya, hingga perangkat teknologi, tak bisa dilepaskan pengaruhnya bagi kita.Tingkatan pengaruhnya sangat tergantung pada kedewasaan kita dalam menjalani dan menentukan pilihan.
  • Kita harus bersikap kritis terhadap tren-tren yang sedang berkembang pesat pada saat ini. Tren-tren yang sangat pesat berkembang antara lain: materialisme, konsumerisme, individualisme, pluralisme, fundamentalisme, dan sebagainya. Tren-tren pun dapat mempengaruhi kaum muda dalam usaha pencarian identitasnya. 

Tentang Ideologi

1) Kita harus bersikap kritis terhadap ideologi, paham-paham, dan aliran yang beraneka ragam. Sebab, ideologi, paham-paham, dan aliran itu dapat melahirkan partai-partai politik atau sekte-sekte agama. Kaum muda sering dijadikan sasaran dari penyebaran slogan perluasan ideologi atau paham-paham dan aliran.

Nasionalisme

Nasionalisme dapat disebut semacam etno-sentrisme atau pandangan yang berpusat pada bangsa sendiri. Gejala seperti semangat nasionalisme, patriotisme, dsb. terdapat pada semua bangsa untuk menciptakan rasa setia kawan dari suatu kelompok yang senasib.

Nasionalisme negatif atau nasionalisme sempit ialah nasionalisme yang mengagung-agungkan bangsa sendiri dan meremehkan/menghina bangsa lain. (Right or wrong my country).

Nasionalisme positif adalah nasionalisme yang mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, sekaligus menghormati kemerdekaan dan kedaulatan bangsa lain!

Marxisme

Sejarah bangsa kita pernah berkenalan dengan marxisme. Marxisme ialah suatu kumpulan ajaran yang menjadi dasar sosialisme dan komunisme. Tujuan utama dari marxisme ialah menghapuskan kapitalisme yang dianggap menyengsarakan dan menjajah kaum proletar, yaitu kaum buruh/rakyat kecil.

Marxisme hanya percaya pada materi, tidak percaya pada dunia adikodrati, termasuk tidak percaya kepada Tuhan. Manusia merupakan satu unsur materi, suatu unsur yang sangat terbatas dalam proses perubahan keseluruhan umat manusia dan semesta alam. Maka, manusia dapat digunakan untuk tujuan marxisme itu. Jika manusia itu menjadi penghalang, maka ia dapat dilenyapkan.

Yang kiranya positif dari ideologi marxisme ini ialah perjuangan dan opsinya kepada kaum buruh/proletar. Hanya sayangnya, ideologi marxisme ini menghalalkan segala cara.

Komunisme

Komunisme adalah anak dari marxisme. Komunisme mencita- citakan suatu sistem masyarakat di mana sarana-sarana produksi dilakukan berdasarkan asas bahwa setiap anggota masyarakat dapat memperoleh hasil sesuai dengan kebutuhan. Cita-cita komunisme ini praktis diperjuangkan dan dimonopoli oleh partai komunis.

Teokrasi

Teokrasi merupakan sebuah paham yang menghendaki agama menguasai masyarakat politis. Dalam hal ini, pemerintahan dianggap melakukan kehendak ilahi seperti diwahyukan menurut kepercayaan agama tertentu. Negara adalah negara agama. Segala bentuk teokrasi bersifat statis-konservatif, karena hukum agama dipandang tetap.

Neo-Liberalisme

Liberalisme adalah suatu paham dan gerakan yang memperjuangkan kebebasan dari penindasan apapun. Namun, kebebasan itu dapat memberi peluang bagi yang kuat untuk menekan yang lemah dan yang kaya memeras yang miskin. Oleh sebab itu, liberalisme di Indonesia sering berkonotasi negatif.

Neo-Liberalisme ialah paham yang berkembang dewasa ini dalam hubungannya dengan globalisasi dan pasar bebas, yang akan dikuasai oleh mereka yang kuat secara ekonomis dan politis. Neo-Liberalisme mempunyai konotasi negatif untuk negara-negara yang sedang berkembang.

Liberalisme memang memiliki segi positif dan negatif.

  • Positif karena liberalisme memperjuangkan kebebasan dan hak asasi manusia.
  • Negatif karena liberalisme, terutama neo-liberalisme dapat menguasai pasar karena terjadi persaingan yang tidak seimbang. Neo-Liberalisme melahirkan sikap-sikap asosial.

Perlu dicatat bahwa kebanyakan ideologi cenderung untuk bersikap fanatik!

2) Ideologi dapat diartikan juga sebagai cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Contoh: banyak remaja di kota besar yang tidak lagi menganggap “kesucian” badan (keperawanan dan keperjakaan), sebagai sesuatu yang penting dipertahankan sampai jenjang perkawinan. Atau, memandang ibadat bersama sebagai buang-buang waktu, dan sebagainya.

 

Tren Yang Berkembang:

Pada saat ini muncul banyak tren dan isu yang semakin lama semakin kuat, yang perlu kita sikapi dengan kritis. Tren-tren dan isu-isu yang aktual dan relevan untuk ditanggapi secara kritis adalah sebagai berikut.

Budaya Materialistik dan Hedonistik

Budaya materialistik dan hedonistik adalah hidup berlimpah materi dan berkesenangan. Manusia diukur dari apa yang dia miliki (rumah, mobil, dan sebagainya), bukan karakter. Pengorbanan, menanggung penderitaan, askese dan tapa, kesederhanaan dan kerelaan untuk melepaskan nikmat demi cita-cita luhur tidak mempunyai tempat dalam budaya materialistik dan hedonistik. Budaya materialistik dan hedonistik itu antara lain melahirkan sikap konsumerisme.

Konsumerisme adalah sikap orang yang terdorong untuk terus-menerus menambahkan tingkat konsumsi, bukan karena konsumsi itu dibutuhkan, melainkan lebih demi status yang dianggap akan diperoleh melalui konsumsi tinggi itu.

Individualisme

Individualisme umumnya muncul akibat dari perkembangan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang sedang berlangsung. Sikap individualistik ini umumnya muncul pada masyarakat yang hidup di kota, terutama pada masyarakat kelas menengah ke atas. Sikap individualistik ini umumnya jarang terjadi pada kaum petani, nelayan, tukang, dan pedagang tradisional yang pekerjaannya tidak terpisahkan dari kehidupan keluarga.

Gaya hidup modern memisahkan dengan tajam antara dua bidang itu. Hidup dalam keluarga dan pekerjaan semakin tidak ada sangkut-pautnya satu sama yang lain. Pagi hari ayah secara fisik dan emosional meninggalkan rumah dan keluarganya, selama delapan sampai sebelas jam, menyibukkan diri dengan pekerjaannya di kantor. Apabila pulang malam hari jika tidak membawa pekerjaan kantor, barulah tersedia waktunya bagi keluarganya. Dengan demikian, budaya kampung, ketetanggaan dan kekeluargaan dalam arti luas berubah. Orang menjadi individualistik dan privatistik.

Pluralisme

Pluralisme berarti bahwa orang dari berbagai suku, daerah, agama, keyakinan religius, dan politik bercampur-baur di kampung-kampung, di tempat kerja, kendaraan umum, di rumah sakit, dan di mana pun juga; tidak ada masyarakat yang tertutup dan tradisional murni.

Dengan kata lain, kontrol sosial terhadap pelaksanaan keagamaan dan hidup bermasyarakat rakyat makin berkurang.

Lingkungan sosial semakin tidak menentukan lagi dalam hal agama, keyakinan, politik, atau kepercayaan. Orang menentukan sendiri keterlibatan dalam bidang-bidang tersebut. Dalam arti ini, agama menjadi urusan pribadi seseorang, bukan urusan masyarakat atau pemerintah. Orang tidak harus mengetahui dan tidak mempedulikan kepercayaan tetangganya.

Fundamentalisme

Gerakan fundamentalisme sekarang banyak muncul, baik di negara-negara berkembang maupun di negara-negara maju. Gerakan fundamentalisme ini umumnya muncul karena adanya suatu tekanan atau ketidakpuasan terhadap kelompok tertentu atau negara tertentu. Gerakan-gerakan fundamentalisme ini umumnya berkedok agama atau kepentingan politik tertentu, seperti yang kita alami di negeri kita saat ini. Selain fundamentalisme agama dan politik, ada juga fundamentalisme yang bersifat non-agama, misalnya sukuisme, nasionalisme, dan sebagainya.

Isu Gender

Pembebasan kaum perempuan akan menjadi pembebasan umat manusia seluruhnya menuju masyarakat baru, dengan paradigma sosial baru. Dalam proses itu kita pun harus menuju pola hubungan yang sederajat sebagai mitra, dengan sikap solider-partisipatif, polisentrik dan karena itu membentuk jaringan dengan banyak simpul yang saling berhubungan.

Gerakan kaum perempuan akan menjadi gerakan pembebasan yang kuat dan terasa dampaknya dalam abad ke-21 ini. Gerakan ini akan merombak paradigma sosial lama menuju masyarakat baru yang lebih egalitarian.

Isu Demokrasi, Otonomi, dan Hak Asasi

Alam demokratis semakin dibutuhkan pada masa sekarang, bukan saja sebagai sikap politik, tetapi sebagai sikap budaya. Secara global, demokrasi menjadi penting bukan saja karena sosialisme telah runtuh, melainkan karena liberalisme politik seakan-akan menjadi satu-satunya paham yang sekarang berlaku. Sikap demokratis dibutuhkan terutama karena munculnya kekuatan- kekuatan baru yang dibawa oleh globalisasi yang telah menimbulkan berbagai perubahan yang akan menjadi produktif jika ditanggapi secara demokratis. Isu demokrasi, otonomi, dan hak asasi akan semakin kuat dalam millennium ini.

Isu Lingkungan Hidup

Pada tahun-tahun terakhir ini, isu lingkungan hidup menjadi sangat sentral di planet ini. Lingkungan hidup sangat erat hubungannya dengan mutu dan kelangsungan hidup manusia. Sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan hidup dianggap sebagai perbuatan yang konyol dan bunuh diri.

Budaya modern yang individualistik, rasionalistik, dan eksploitatif mulai sedikit digeser oleh budaya pasca modern yang lebih sosial dan akrab dengan alam/lingkungan hidup.

Mau mendengarkan renungan harian dengan pendekatan pribadi? Kunjungi dan subscribe channel Risalah Immanuel. Upload setiap hari jam 6 pagi WITA!

Bersikap Kritis dan Bertanggung Jawab Terhadap Pengaruh Media Massa

Pandangan Gereja tentang media massa berdasarkan Dekrit Konsili Vatikan II tentang Komunikasi sosial (Intermerifica, Art. 9 & 10).

Artikel 9
(Kewajiban-kewajiban para pemakai media komunikasi sosial)
Kewajiban-kewajiban khusus mengikat semua penerima, yakni para pembaca, pemirsa dan pendengar, yang atas pilihan pribadi dan bebas menampung informasi-informasi yang disiarkan oleh media itu. Sebab cara memilih yang tepat meminta, supaya mereka mendukung sepenuhnya segala sesuatu yang menampilkan nilai keutamaan, ilmu-pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya hendaklah mereka menghindari apa saja, yang bagi diri mereka sendiri menyebabkan atau memungkinkan timbulnya kerugian rohani, atau yang dapat membahayakan sesama karena contoh yang buruk, atau menghalang-halangi tersebarnya informasi yang baik dan mendukung tersiarnya informasi yang buruk. Hal itu kebanyakan terjadi dengan membayar iuran kepada para penyelenggara, yang memanfaatkan media itu karena alasan-alasan ekonomi semata-mata. Maka supaya para penerima itu mematuhi hukum moral, hendaknya mereka jangan melalaikan kewajiban, untuk pada waktunya mencari informasi tentang penilaian-penilaian yang mengenai semuanya itu diberikan oleh instansi-instansi yang berwenang, dan untuk mengikutinya sebagai pedoman menurut suara hati yang cermat. Untuk lebih mudah melawan dampak- dampak yang merugikan, dan mengikuti sepenuhnya pengaruh-pengaruh yang baik, hendaknya mereka berusaha mengarahkan dan membina suara hati mereka dengan upaya-upaya yang cocok.

Artikel 10.
(Kewajiban-kewajiban kaum muda dan para orang tua)
Hendaknya para penerima, terutama dikalangan kaum muda berusaha, supaya dalam memakai upaya-upaya komunikasi sosial mereka belajar mengendalikan diri dan menjaga ketertiban. Kecuali itu hendaklah mereka berusaha memahami secara lebih mendalam apa yang mereka lihat, dengar dan baca. Hendaklah itu mereka percakapkan dengan para pendidik dan para ahli, dan dengan demikian mereka belajar memberi penilaian yang saksama. Sedangkan para orang-tua hendaknya menyadari sebagai kewajiban mereka: menjaga dengan sungguh sungguh, supaya tayangan-tayangan, terbitan- terbitan tercetak dan lain sebagainya, yang bertentangan dengan iman serta tata susila, jangan sampai memasuki ambang pintu rumah tangga, dan jangan sampai anak-anak menjumpainya di luar lingkup keluarga.

  • Media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari medium secara harafiah berarti perantara atau pengantar dalam hal ini untuk menyalurkan pesan atau informasi.
  • Kita sekarang sedang mengalami revolusi informasi. Karena berbagai kemajuan teknologi media, kita dibanjiri oleh arus informasi yang melimpah ruah dan tidak henti, hampir tanpa saringan. Informasi- informasi itu dapat berupa informasi yang baik dan membangun, tetapi juga dapat berupa informasi yang buruk dan merusak.
  • Kita harus memiliki sikap kritis terhadap semua informasi yang kita terima. Sikap kritis berarti dapat memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah; mana yang baik dan mana yang buruk; mana yang positif dan mana yang negatif. Jadi, kita harus bersikap kritis terhadap pengaruh positif dan negatif dari media yang menyuguhkan berbagai informasi. 
  • Pengaruh positif dari media dapat terjadi karena:

1) Teknologi media mendekatkan manusia satu sama lain. Ia dapat mendekatkan pikiran dan relasi kita. Pikiran dan relasi kita menjadi lebih terbuka kepada orang lain, kepada bangsa lain, budaya lain, dan sebagainya.
2) Teknologi media dapat membuat kita terlibat pada peristiwa di belahan bumi yang lain. Kita terlibat pada gempa bumi di Aljazair, pada SARS di Cina, pada Piala Dunia, dan sebagainya.
3) Teknologi media menyajikan mutu dan pola pemberitaan yang semakin menarik. Pemberitaan lewat satelit dan jaringan internet yang makin semarak.
4) Teknologi media dapat menyajikan gambar dan suara yang lebih canggih, seperti musik stereo, gambar tiga dimensi, dan sebagainya.

  • Pengaruh dari pemilik atau sponsor media

1) Manusia, entah pemilik media, entah sponsor, entah lembaga negara, entah masyarakat dan Gereja, dapat menggunakan media untuk menciptakan perhatian dan keprihatinan umum tentang suatu masalah di belahan bumi, seperti AIDS, narkotika, pembunuhan massal oleh suatu pemerintahan otoriter, dan sebagainya. Ia membantu menciptakan keprihatinan.
2) Media dapat digunakan untuk memberi informasi membentuk, opini umum yang baik dan juga untuk mendidik. Media dapat digunakan untuk membela keadilan dan kebenaran, dan sebagainya.
3) Media dapat digunakan untuk hiburan. Misalnya, hiburan musik, tari, sinetron, dan sebagainya.

  • Pengaruh yang tidak disadari, yakni:

1) Sadar tidak sadar, media sudah membentuk budaya baru. Kaum muda adalah massa yang terlibat penuh dalam budaya baru ini.
2) Sadar tidak sadar, media telah mengubah cara pikir kita tentang hidup, tentang kebudayaan, dan sebagainya. Jendela dunia terbuka lebar bagi kita.

  • Pengaruh Negatif dari Media

Pengaruh negatif yang disebabkan dari teknologi media sendiri, antara lain:

1) Media telah membangun kerajaan dan kekuasaan yang sangat kuat. Siapa yang memiliki media dia yang kuat dan berkuasa. Media Dunia Utara menguasai Dunia Selatan. Kota menguasai desa. Pihak yang kuat dan kaya menguasai yang lemah dan miskin.
2) Media menciptakan budaya baru yang gemerlap, budaya asli dan lokal perlahan-lahan tersingkir.

Pengaruh negatif yang disebabkan oleh pemilik dan sponsor media, yakni:

1) Media adalah bisnis. Supaya bisnis dapat laku, maka digalakkan semangat materialisme, konsumerisme dan hedonisme.
2) Lewat media dapat dibangun persepsi yang salah tentang kesejahteraan. Kesejahteraan berarti memiliki materi sebanyak- banyaknya. Manusia tidak lagi dinilai dari karakter dan dedikasi, tetapi dari apa yang dia miliki (rumah, mobil, uang, dan sebagainya.) seperti yang dipromosikan pada iklan-iklan di media.
3) Lewat media dapat diciptakan stereotip tentang tokoh kecantikan, mode, dan sebagainya. yang akan ditiru oleh khalayak ramai, misalnya mode rambut, mode pakaian, dan sebagainya. yang begitu cepat ditiru.
4) Lewat media dapat diciptakan sensasi tantangan seks, kekerasan, dan horor yang mungkin sangat disenangi oleh penonton.
5) Pemilik, penguasa, dan sponsor media dapat melakukan berbagai rekayasa dan trik demi kepentingan bisnis dan politiknya.

Pengaruh negatif yang tidak disengaja

1) Jadwal hidup dan kerja kita menjadi tidak teratur. Banyak waktu tersedot untuk menonton atau mendengar siaran media. Komunikasi antarpribadi dalam keluarga berkurang.
2) Kecanduan dan keterlibatan pada kekerasan dan seks bebas sering ada hubungannya dengan siaran TV atau chatting di internet atau HP (SMS).
3) Arus urbanisasi sering disebabkan oleh tayangan yang glamour tentang kehidupan kota

  • Oleh karena itu, kita harus tetap kritis terhadap media dan pandai-pandai menggunakan media untuk kepentingan kita dan masyarakat/umat. 

Suara Hati

Hati nurani sendiri dapat diartikan secara luas dan secara sempit.
Arti luas: Dalam arti luas hati nurani berarti kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia. Keinsyafan akan adanya kewajiban.
Arti sempit: Hati nurani merupakan penerapan kesadaran moral di atas dalam situasi konkret. Suara hati yang menilai suatu tindakan manusia benar atau salah, baik atau buruk. Hati nurani tampil sebagai hakim yang baik dan jujur, walaupun dapat keliru.

Gaudium et Spes artikel 16:
Di lubuk hatinya manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, melainkan harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan untuk menghindari apa yang jahat. Bilamana perlu, suara itu menggema dalam lubuk hatinya: jalankanlah ini, elakkanlah itu. Sebab dalam hatinya manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah mematuhi hukum itu, dan menurut hukum itu pula ia akan diadili. Hati nurani ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya. Berkat hati nurani dikenallah secara ajaib hukum, yang dilaksanakan dalam cinta kasih terhadap Allah dan terhadap sesama. Atas kesetiaan terhadap hati nurani Umat kristiani bergabung dengan sesama lainnya untuk mencari kebenaran, dan untuk dalam kebenaran itu memecahkan sekian banyak persoalan moral, yang timbul baik dalam hidup perorangan maupun dalam hidup kemasyarakatan. Oleh karena itu semakin besar pengaruh hati nurani yang cermat, semakin jauh pula pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok menghindar dari kemauan yang membabi-buta, dan semakin mereka berusaha untuk mematuhi norma-norma kesusilaan yang objektif. Akan tetapi tidak jaranglah terjadi bahwa hati nurani tersesat karena ketidaktahuan yang tak teratasi, tanpa kehilangan martabatnya. Tetapi itu tidak dapat dikatakan tentang orang, yang tidak peduli untuk mencari apa yang benar serta baik, dan karena kebiasaan berdosa hati nuraninya lambat laun hampir menjadi buta.

Suara hati adalah suara Allah, maka melawan suara hati berarti melawan Allah. Agar kita setia pada kehendak Allah kita perlu bersatu dengan Roh Kudus dan mengandalkan kekuatannya.

Kerja suara hati dapat ditinjau dari berbagai segi:

Segi waktu
1) Hati nurani dapat berperanan sebelum suatu tindakan dibuat.
Biasanya, hati nurani akan menyuruh kalau perbuatan itu baik dan melarang kalau perbuatan itu buruk.
2) Hati nurani dapat berperan pada saat suatu tindakan dilakukan.
Ia akan terus menyuruh jika perbuatan itu baik dan melarang jika perbuatan itu buruk atau jahat.
3) Hati nurani dapat berperan sesudah suatu tindakan dibuat.
Hati
nurani akan “memuji” jika perbuatan itu baik dan hati nurani akan membuat kita gelisah atau menyesal jika perbuatan itu buruk atau jahat.

Segi benar-tidaknya
1) Hati nurani benar, jika kata hati kita cocok dengan norma objektif.
2) Hati nurani keliru, jika kata hati kita tidak cocok dengan norma objektif

Segi pasti-tidaknya
1) Hati nurani yang pasti, artinya, secara moral dapat dipastikan bahwa hati nurani tidak keliru.
2) Hati nurani yang bimbang, artinya, masih ada keraguan.

Penyebab tumpulnya suara hati antara lain:

1) Orang yang bersangkutan tidak biasa menghiraukan hati nuraninya.
2) Orang yang selalu bersifat ragu-ragu atau bingung.
3) Pandangan masyarakat yang keliru. Misalnya: riba dianggap biasa!
4) Pengaruh pendidikan dalam lingkungan keluarga atau lingkungan lainnya.
5) Pengaruh propaganda, mass media dan arus massa.

Cara kerja suara hati, antara lain:

  • Sebelum bertindak, ia berfungsi sebagai petunjuk (indeks), yang mengingatkan pengetahuan kita bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Sesungguhnya kesadaran moral semacam ini sudah dimiliki setiap orang dewasa.
  • Pada saat-saat menjelang bertindak, ia bertindak sebagai hakim (iudeks), yang menyuruh kita melakukan yang baik dan melarang/menghindari yang jahat. Selama perbuatan itu belum selesai, suara hati akan bekerja terus antara menyuruh melakukan yang baik dan melarang melakukan yang jahat.
  • Sesudah tindakan selesai dilakukan, ia berfungsi memberikan vonis (vindeks), yang akan menyatakan apakah perbuatan kita itu tepat atau tidak tepat. Bila yang kita lakukan itu benar, ia akan memberikan pujian sehingga kita merasakan ketenangan, tetapi bila yang kita lakukan itu yang jahat dan salah maka ia akan memberikan hukuman, yang membuat kita merasa bersalah dan tidak tenang, merasa dikejar-kejar kesalahan, dan sebagainya.

Suara hati dapat dibina dengan cara:

1. Mengikuti suara hati dalam segala hal

  • Seseorang yang selalu berbuat sesuai dengan hati nuraninya, hati nurani akan semakin terang dan berwibawa.
  • Seseorang yang selalu mengikuti dorongan suara hati, keyakinannya akan menjadi sehat dan kuat. Dipercayai orang lain, karena memiliki hati yang murni dan mesra dengan Allah.
    “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan memandang Allah.” (Matius 5: 8).

    2. Mencari keterangan pada sumber yang baik

  • Dengan membaca: Kitab Suci, Dokumen-Dokumen Gereja, dan buku-buku lain yang bermutu.
  • Dengan bertanya kepada orang yang punya pengetahuan/pengalaman dan dapat dipercaya
  • Ikut dalam kegiatan rohani, misalnya rekoleksi, retret, dan sebagainya.
  • Koreksi diri atau introspeksi
  • Koreksi atas diri sangat penting untuk dapat selalu mengarahkan hidup kita.

    3. Menjaga kemurnian hati

  • Menjaga kemurnian hati terwujud dengan melepaskan emosi dan nafsu, serta tanpa pamrih, yang nampak dalam tiga hal:
    a) Maksud yang lurus (recta intentio): ia konsisten dengan apa yang direncanakan, tanpa dibelokkan ke kiri atau ke kanan.
    b) Pengaturan emosi (ordinario affectum): ia tidak menentukan keputusan secara emosional.
    c) Pemurnian hati (purification cordis): tidak ada kepentingan pribadi atau maksud-maksud tertentu di balik keputusan yang diambil.
  • Hal ini dapat dilatih dengan penelitian batin, seperti merefleksikan rangkaian kata dan tindakan sepanjang hari itu, berdoa sebelum melakukan aktivitas, dan lain-lain.