Sabda Bahagia

  • Semua orang, baik anak-anak maupun dewasa, pasti menginginkan hidup yang bahagia. Kebahagiaan diartikan sebagai pemenuhan dari semua keinginan hati kita.
  • Jika kita perhatikan, pemenuhan kebahagiaan itu bergeser terus, manusia cenderung menginginkan sesuatu yang ‘lebih’: ingin lebih pandai, lebih sukses, dan lebih baik.
  • Walaupun semua orang ingin bahagia, umumnya orang tidak tahu secara persis kehidupan seperti apa yang dapat menghantar kita ke sana. Akibatnya tiap-tiap orang mengejar hal yang berbeda-beda untuk mencapai kebahagiaan itu. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa: saya bahagia kalau punya banyak uang, dapat makan yang enak, atau punya pasangan yang keren, atau kedudukan yang tinggi dan pendidikan yang tinggi, kesehatan yang prima, dan penampilan yang OK, dan sebagainya. Pada akhirnya, atas dasar pandangan yang berbeda itupulalah yang mengakibatkan banyak orang juga melakukan berbagai cara yang berbeda-beda untuk menggapai kebahagiaan itu.
  • Dalam Injil Matius 5:1-12, Yesus menawarkan kebahagiaan yang tidak hanya bersifat sementara. Ajaran Yesus itu kita kenal dengan istilah “Delapan Sabda Bahagia”.
  • Dalam ajaran-Nya, Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah…” (Matius 5:3). Harap diingat Yesus tidak berkata “berbagahagialah kamu karena kamu miskin atau kalau kamu mau bahagia silahkan jadi orang miskin”. Yesus memuji bahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, berarti orang tersebut menyadari ketakmampuannya, ketakberdayaannya dan karena itu menyerahkan diri secara total pada kekuatan kuasa Allah. Orang yang dipuji Yesus adalah orang yang tidak terikat dengan harta yang sementara dan tak diperbudak oleh harta yang sementara. Begitulah salah satu bunyi dari sabda bahagia.
  • Melalui sabda bahagia ini Yesus bermaksud menyatakan tiga hal, yaitu:
    (a) Menyiapkan para murid-Nya untuk menghadapi dunia yang orientasi kehidupannya sangat berlainan dengan kehendak Allah,
    (b) Sabda bahagia me ngandung nilai eskatologis (akhirat/ akhir zaman), sebagai syarat masuk surga dan
    (c) Sabda bahagia merupakan hukum baru yang mengatur relasi manusia dengan Tuhan dan sesama yang didasarkan pada kasih.
  • Sabda bahagia mengandung dua aspek yang mengatur kehidupan manusia, yaitu:
    (Pertama) Aspek Iman (Matius 5: 3-6) mengandung pemahaman bahwa yang berbahagia adalah orang yang sepenuhnya menyandarkan hidup kepada Allah. Mereka itu adalah:
    (a) Orang miskin;
    bukan mereka miskin karena tidak memiliki harta benda, melainkan karena tertindas oleh orang kaya dan kuat.
    (b) Orang yang berduka cita;
    mereka mengharapkan penghiburan yang datang dari Allah (Yes 61: 1-3)
    (c) Orang yang lemah lembut;
    orang yang dengan rendah hati menantikan pertolongan dari Tuhan,
    (d) Orang yang lapar dan haus akan kebenaran;
    mereka adalah orang-orang yang rindu dibenarkan oleh Allah (Mazmur 146: 7).
    (Kedua) Aspek Sosial (Matius 5: 7-10); dari sudut sosial orang yang berbahagia menurut Yesus adalah:
    (a) Orang yang murah hati;
    artinya orang yang gemar berbuat kasih kepada sesamanya.
    (b) Orang yang suci hatinya:
    artinya orang yang sadarkan dirinya sebagai warga Kerajaan Allah dan siap melakukan kehendak-Nya.
    (c) Orang yang membawa damai;
    orang yang menciptakan suasana damai dalam masyarakat,
    (d) Orang yang dianiaya karena kebenaran;
    artinya orang yang berjuang demi tegaknya kebenaran.
  • Penjelasan dari isi Sabda Bahagia
    1) Miskin di hadapan Allah (ay. 3):
    maksudnya bahwa mereka adalah orang yang memiliki sikap percaya secara mutlak dan berserah kepada Allah, dan bukan mengandalkan kekuatan hidup atas kekayaan, kekuasaan, prestise, dan sebagainya.
    2) Berduka cita (ay. 4):
    maksudnya di sini adalah orang yang dalam penderitaannya tetap sabar, tetap setia kepada Allah dan tidak mudah putus asa.
    3) Lemah lembut (ay. 5):
    maksud dari orang yang lemah lembut adalah orang yang dengan rendah hati, yang tidak mengumpat dan mengancam orang lain, tidak bereaksi keras bila dihina dan dilukai perasaannya.
    4) Lapar dan haus akan kebenaran (ay. 6):
    maksudnya adalah orang yang lebih mengutamakan kebutuhan rohani demi terwujudnya Kerajaan Allah.
    5) Murah hati (ay. 7):
    maksudnya bahwa orang yang murah hati adalah orang yang mau mengampuni, sebagaimana Allah juga murah hati dan senantiasa mau mengampuni.
    6) Suci hati (ay. 8):
    maksudnya bahwa orang yang suci hatinya adalah orang yang dalam seluruh hidupnya mencintai dan mengabdi dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah tanpa syarat.
    7) Membawa damai (ay. 9):
    maksudnya bahwa orang yang membawa damai adalah orang yang bekerja untuk meningkatkan atau menciptakan kesatuan, kerukunan dan cinta kasih persaudaraan sejati antarmanusia.
    8) Dianiaya oleh sebab kebenaran (ay. 11):
    maksudnya bahwa orang Kristen diajak untuk memperjuangkan kebenaran, sekalipun mereka mendapat berbagai pengaiayaan, selalu setia kepada Kristus sekalipun mereka mendapat berbagai celaan dan pengaiayaan, sebagai bukti bahwa mereka mencintai-Nya.

Catatan Penting Buku Guru Kelas 7 K13

Kebebasan Anak-Anak Allah

  • Pada hakikatnya kebebasan sudah melekat pada diri manusia sejak manusia ada, yaitu yang kita kenal dengan istilah hak asasi. Namun dalam kenyataannya kebebasan manusia seringkali disalahgunakan oleh manusia itu sendiri.
  • Manusia sering salah menafsirkan makna yang terkandung dalam aturan-aturan yang dikeluarkan baik oleh penguasa negara maupun pemimpin agama.
  • Aturan yang semula merupakan ketentuan atau rambu-rambu untuk menciptakan kebebasan, ketenteraman dan kedamaian bagi manusia sehingga menjadi manusia yang bertanggung jawab dibelokkan menjadi senjata untuk menindas orang kecil bahkan membinasakan orang lain.
  • Banyak pelanggaran yang terjadi karena salah kaprah tentang arti kebebasan. Kebebasan diartikan bertindak sekehendak hatinya. Maka terjadilah pelanggaran di segala segi kehidupan.
  • Pada pelajaran kali ini, kita akan bersama-sama mendalami makna kebebasan kita sebagai anak-anak Allah. Tuhan Yesus memaklumkan bahwa Allah itu pembebas. Allah ingin agar manusia mengembangkan diri secara penuh, dengan demikian segala hukum, peraturan dan perintah harus diabadikan pada tujuan pemerdekaan manusia; artinya tujuan utama hukum adalah membebaskan manusia dari segala sesuatu yang dapat menghalangi manusia untuk berbuat baik.
  • Sebagai murid-murid Yesus, kita adalah orang-orang yang telah dibebaskan berkat sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Maka sudah saatnya kita pun diajak utuk membebaskan sesama. Bukan sebaliknya, menggunakan kebebasan yang sudah diberikan untuk hal-hal yang tidak berguna. Bacalah Galatia 5:1.13-15 berikut ini:

    1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu, berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. 13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu menggunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. 14 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri!”. 15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

  • Kebebasan dapat dimengerti dalam dua segi yaitu:
    1) bebas dari. Maksudnya bahwa setiap orang mendambakan dirinya terbebas dari banyak hal misalnya: bebas dari rasa lapar, bebas dari sakit, bebas dari siksaan badan, bebas dari tempat yang sesak, dan lain-lain
    2) bebas untuk. Maksudnya bahwa kita bebas untuk melakukan segala sesuatu yang baik dan berguna, misalnya bebas untuk menolong, mengeluarkan pendapat, berkreasi, beraktivitas.
  • Fungsi kebebasan adalah bahwa berkat kebebasan yang dimilikinya, manusia tampil sebagai ciptaan Allah yang bermartabat luhur.
  • Berkat kebebasannya pula manusia dapat mengembangkan dirinya menuju kesempurnaan berkat pilihan-pilihan yang dimilikinya.
  • Bagaimanapun juga, kebebasan yang kita miliki tidak pernah bebas dalam arti sebebas-bebasnya tanpa batas.
  • Kebebasan yang kita miliki selalu berhadapan dengan kebebasan dari orang lain. Oleh karena itu perlu ada aturan agar kebebasan tidak saling berbenturan antara satu dengan yang lain.
  • Oleh karena itu, kebebasan perlu dijalankan secara bertanggung jawab. Norma atau aturan bukan merupakan penghalang kebebasan, tetapi berfungsi untuk mengatur supaya kehidupan bersama berjalan dengan tertib dan teratur.
  • Keluhuran Kebebasan
    (Gaudium et Spes) artikel 17:

Adapun manusia hanya dapat berpaling kepada kebaikan bila ia bebas. Kebebasan itu oleh orang-orang zaman sekarang sangat dihargai serta dicari penuh semangat, dan memang tepatlah begitu. Tetapi sering pula orang-orang mendukung kebebasan dengan cara yang salah, dan mengartikannya sebagai kesewenang-wenanganuntuk berbuat apa pun sesuka hatinya, juga kejahatan. Sedangkan kebebasan yang sejati merupakan tanda yang mulia gambar Allah dalam diri manusia. Sebab Allah bermaksud menyerahkan manusia kepada keputusannya sendiri, supaya ia dengan sekarela mencari Penciptanya, dan dengan mengabdi kepada-Nya secara bebas mencapai kesempurnaan sepenuhnya yang membahagiakan. Maka martabat manusia menuntut, supaya ia bertindak menurut pilihannya yang sadar dan bebas, artinya: digerakkan dan di dorong secara pribadi dari dalam, dan bukan karena rangsangan hati yang buta, atau semata-mata paksaan dari luar. Adapun manusia mencapai martabat itu, bila ia membebaskan diri dari segala penawanan nafsu-nafsu, mengejar tujuannya dengan secara bebas memilih apa yang baik, serta dengan tepat-guna dan jerih-payah yang tekun mengusahakan sarana-sarananya yang memadai. Kebebasan manusia terluka oleh dosa; maka hanya berkat bantuan rahmat Allah mampu mewujudkan secara konkrit nyata arah-gerak hatinya kepada Allah. Adapun setiap orang harus mempertanggungjawabkan perihidupnya sendiri di hadapan takhta pengadilan Allah, sesuai dengan perbuatannya yang baik maupun yang jahat.

  • Setiap orang Katolik percaya bahwa berkat wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, kita telah dijadikan sebagai anak-anak Allah yang merdeka.
  • Gereja melalui Sakramen Baptis mengangkat kita menjadi anak-anak Allah yang merdeka, bebas dari dosa dan melancarkan hubungan manusia dengan Allah, terhindar dari kematian kekal dan dengan bebas pula melayani Tuhan dan sesama.
  • Bagi orang yang telah dibebaskan oleh sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus, tugas yang harus diemban selanjutnya adalah membebaskan sesama dari tindakan sewenang-wenang dan dari keterikatan pada dosa yang mengakibatkan maut. Oleh sebab itu, jangan menggunakan kebebasan untuk hal-hal yang tidak berguna serta merusak masa depan.

Catatan penting buku guru agama katolik dan budi pekerti K13 kelas 7

Yesus Peduli terhadap Penderitaan Manusia

  • Di dalam kehidupan kita sehari-hari, ternyata untuk berbuat baik tidak selalu mudah, sering ada hambatan, entah dari diri sendiri, maupun dari orang lain. Akibatnya, hal ini membuat orang menjadi bersikap tidak peduli atau acuh tak acuh terhadap sekitarnya karena tidak ingin direpotkan dengan berbagai hal termasuk tidak peduli pada sesamanya yang menderita.
  • Banyak keprihatinan dalam masayarakat disebabkan oleh sikap tidak peduli warga masyarakat terhadap sesama dan lingkungannya. Sikap kurang peduli lebih banyak disebabkan oleh sikap egoisme, yakni ketika seseorang tidak lagi memikirkan nasib sesamanya dan lebih memikirkan dan mementingkan diri sendiri.
  • Ada cukup banyak orang kini bersikap kurang peduli terhadap mereka kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan cacat. Sikap egoisme begitu kuat. Terdapat kecenderungan seseorang tidak lagi memikirkan sesamanya. Mereka lebih memikirkan dan mementingkan diri sendiri.
  • Sikap peduli terhadap sesama tidak mungkin tumbuh dengan sendirinya tanpa membiasakan diri. Kebiasaan itu perlu dipupuk sejak dalam keluarga, sekolah, dan akhirnya dalam masyarakat.
  • Yesus telah memberikan teladan kepada kita tentang sikap peduli pada sesama terlebih terhadap penderitaan sesama kita.
  • Salah satu contoh kepedulian Yesus adalah pada kisah Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat (lihat Lukas 6: 6-11). Kepekaan dan kepedulian Yesus terhadap penderitaan sesama sedemikian besar, karena Ia selalu memandang dan mengasihi mereka semua, orang-orang yang menderita sebagai Anak-anak Allah yang bermartabat luhur. Maka demi menolong dan mengembalikan martabat tersebut, Yesus berani meruntuhkan aturan atau hukum yang mengekang kemanusiaan dan keilahian.
  • Ciri-ciri orang yang memiliki sifat peduli antara lain: peka terhadap keadaan sesama disekitarnya, mudah dan ringan tangan untuk membantu sesama yang menderita, tidak egois dalam banyak hal, mudah tergerak hatinya untuk menolong orang lain yang membutuhkan bantuan, tidak malu ataupun canggung untuk menolong dan membantu sesama yang menderita.
  • Yesus adalah pemimpin yang sungguh tahu, mau belajar dan setia atau taat kepada kehendak Bapa. Ketaatan Yesus terutama pada kehendak Bapa dalam rencana penyelamatan umat manusia. Ia rela menderita, dianiaya, dikhianati, ditolak oleh bangsa-Nya sendiri. Ini semua merupakan ungkapan, bahwa sebagai pemimpin Ia tidak mencari enaknya sendiri, Ia tidak berjuang demi kedudukan dan kekuasaan-Nya sendiri, namun justru menunjukkan betapa Ia sangat peduli pada situasi hidup dan penderitaan manusia.
  • Sebagai murid Kristus, kita semua juga diundang untuk terus belajar taat kepada kehendak Bapa dan misteri kehendak-Nya. Ini dapat kita lakukan dengan taat kepada suara hati yang benar, mempertajam daya pikir yang baik.
  • Dengan sikap yang senantiasa peduli pada suara hati, maka Tuhan yang bersuara melalui hati kita akan mudah untuk kita dengar, terlebih kehendak-Nya yang senantiasa mengajak kita untuk peduli pada penderitaan sesama kita.
  • Keteladanan Yesus ini sungguh menuntun kita, supaya kita pun bersikap seperti Yesus, berani berkorban dan peduli pada penderitaan sesama demi kesehjahteraan banyak orang dan terus belajar setia atau taat kepada suara hati. Kita yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu membantu kita.

Catatan penting buku guru agama katolik dan budi pekerti K13 kelas 7

Yesus Sang Pengampun

  • Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan baik terhadap diri sendiri, terhadap orang lain maupun terhadap Tuhan.
  • Walaupun demikian, tidak semua orang bila melakukan kesalahan cepat-cepat untuk meminta maaf atas kesalahannya. Demikian pula tidak semua orang yang mau dengan senang hati untuk memaafkan atau memberi pengampunan kepada orang yang bersalah kepadanya, apa lagi jika dirasa bahwa kesalahannya sungguh terlalu berat dan menyakitkan hati.
  • Dalam Kitab Suci, kasih yang diberikan Yesus tertuju pada semua orang, baik bagi mereka yang menderita, juga bagi mereka yang bersalah kepada-Nya.
  • Yesus memberikan teladan kepada kita tentang bagaimana memberikan pengampunan tanpa batas. Hal ini tampak nyata ketika memberikan pengajaran pada para murid-Nya untuk memberikan pengampunan.
  • Yesus menyatakan bahwa dalam mengampuni hendaknya tidak terbatas. Hal ini dinyatakan oleh Yesus bahwa dalam mengampuni “… Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali…” (Matius 18:21-35)
  • Pengampunan itu tanpa batas, tanpa perhitungan. Karena pengampunan kepada sesama tidak mungkin dipisahkan dari pengampunan Allah.
  • Pengampunan Allah jauh melampaui pengertian pada umumnya serta melampaui segala perhitungan.
  • Pada kesempatan lain, Yesus melakukan pengampunan kepada perempuan yang kedapatan berzinah (Yohanes 8). Kepada perempuan yang berdosa ini, Yesus tidak mengadili, tetapi memberi kesempatan kepada perempuan tersebut untuk berubah dan tidak melakukan dosa lagi. Yesus memberi kesempatan kepada pendosa itu untuk bertobat.
  • Kesediaan untuk mengampuni merupakan kualitas spiritualitas yang tinggi. Semakin mampu mengampuni, berarti kita semakin diperkaya oleh kasih Allah, semakin dimampukan untuk dipakai sebagai alat-Nya secara tepat.
  • Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan orang sulit untuk memaafkan atau juga orang sulit untuk meminta maaf atas kesalahannya, yaitu antara lain:
    (a) karena keinginan untuk mempertahankan “harga diri” atau wibawa,
    (b) karena gengsi, dan
    (c) karena sikap egois dan mau menang sendiri.
  • Ketidakmampuan memaafkan atau mengampuni dapat mengakibatkan:
    (a) menumbuhkan rasa dendam, yang sesungguhnya dapat merugikan diri sendiri,
    (b) orang yang bersalah pada akhirnya menanggung rasa bersalah secara berkepanjangan,
    (c) tumbuhnya permusuhan dan kebencian.
  • Meminta maaf atau memberi pengampunan, sesungguhnya dapat menguntungkan, baik bagi yang bersalah maupun bagi orang yang telah dirugikan.
  • Dengan mau mengampuni, ataupun mau meminta maaf, akan dapat menjadikan hati kita tenang, tenteram, damai, jauh dari segala permusuhan dan dendam, bahkan dengan memaafkan atau meminta maaf, hubungan kita dengan sesama dan dengan Tuhan akan tetap terjalin dengan harmonis dan menyenangkan.
  • Lewis B. Smedes di dalam bukunya yang berjudul Mengampuni & Melupakan (Forgive and Forget) menuliskan ada empat tahap Pemberian Maaf:
    (1) Tahap pertama adalah sakit hati. Ketika seseorang menyebabkan Anda sakit hati begitu mendalam dan secara curang sehingga Anda tidak dapat melupakannya. Anda terdorong ke tahap pertama krisis pemberian maaf. (2) Tahap kedua adalah membenci. Anda tidak dapat mengenyahkan ingatan tentang seberapa besar Anda sakit hati, dan Anda tidak dapat mengharapkan musuh Anda baik-baik saja. Anda kadang-kadang menginginkan orang yang menyakiti Anda juga menderita seperti Anda.
    (3) Tahap ketiga adalah menyembuhkan. Anda diberi sebuah “mata ajaib” untuk melihat orang yang menyakiti hati Anda dengan pandangan baru. Anda disembuhkan, Anda menolak kembali aliran rasa sakit dan Anda bebas kembali.
    (4) Tahap keempat adalah berjalan bersama; Anda mengundang orang yang pernah menyakiti hati Anda memasuki kembali dalam kehidupan Anda. Kedatangannya yang tulus membuat Anda berdua akan menikmati hubungan yang dipulihkan kembali.

Catatan penting buku guru agama katolik dan budi pekerti K13 Kelas 7

Yesus Yang Berbelas Kasih

  • Di dalam kehidupan kita saat ini, banyak kita jumpai orang-orang yang tersingkirkan, menderita dan sengsara. Hampir di semua sudut-sudut kota besar, kita jumpai orang-orang yang menderita, yaitu para pengemis, gelandangan, anak-anak kecil yang mengamen, membersihkan kaca mobil, memulung. Orang-orang seperti ini merupakan orang-orang yang perlu mendapatkan perhatian kita.
  • Dengan perhatian dan pertolongan dari kita, maka orang-orang tersebut merasa diperhatikan dan merasa ‘diorangkan’ oleh sesamanya.
  • Dalam Kitab Suci, secara gamblang dan banyak kita jumpai tentang sikap lain yang menunjukkan kualitas hidup Yesus, yaitu sikap belas kasih-Nya.
  • Sikap belas kasih ini menampakan sikap belas kasih Allah sendiri. Sikap belas kasih ini menempatkan diri Yesus pada posisi mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir.
  • Sikap belas kasih Yesus tidak netral, melainkan memihak yaitu memihak kepada kelompok yang tidak beruntung, kepada kelompok yang terpinggirkan dan disingkirkan.
  • Pada umumnya, ketika seseorang disakiti, ia akan membalasnya dengan kejahatan pula. Bahkan jika mungkin, pembalasannya dilakukan dengan lebih berat atau besar. Semangat “mata ganti mata” dan “gigi ganti gigi”, semangat balas dendam masih tetap dipraktikkan banyak orang.
  • Kata “belarasa” sebenarnya untuk menggantikan kata “agape” (yang terlalu asing), “kasih” (yang sudah kehilangan arti) dan “cinta” (yang artinya mendua). Secara harafiah, kata belarasa berarti ikut merasakan menderita atau merasa bersama.
  • Ciri-ciri khas orang kristriani adalah kasih (=belarasa). Salah satu kesulitan untuk melaksanakannya adalah karena belarasa sekaligus berkaitan dengan emosi dan tindakan kehendak. Membiasakan berbela rasa, berbelas kasih perlu dilakukan agar menjadi sebuah keutamaan.
  • Melalui sikap dan tindakan-Nya, Yesus ingin menyatakan cinta Allah kepada semua manusia tanpa terkecuali dan kita pun dipanggil untuk mengasihi tanpa terkecuali (baca Lukas 6:27-37).
  • Kasih Yesus sungguh menguatkan dan meneguhkan orang lain, sehingga pada akhirnya orang yang menderita merasa diselamatkan dan memuliakan Allah.
  • Tindakan Yesus yang menunjukkan sikap berbelas kasih yang lainnya tampak dalam perbuatan: (a) menyelamatkan wanita yang tertangkap basah berzinah (Yohanes 8:2-11). (b) menyembuhkan orang sakit kusta (Matius 8:1-4) (c) menyembuhkan orang buta (Matius 9:27-31) (d) membangkitkan anak tunggal seorang janda (Lukas 7:11-17), dan lain-lain.
  • Yesus melakukan semua perbuatan kasih itu bukan demi mencari pengikut yang banyak, bukan pula demi popularitas, namun semua itu dilakukan demi pembebasan orang yang dikasihi-Nya, demi kebahagiaan orang yang dikasihi-Nya.

Catatan penting buku guru agama katolik dan budi pekerti K13 kelas 7

Yesus Sang Pendoa

  • Doa merupakan suatu sarana yang kita pergunakan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. 
  • Dalam doa yang baik, terjadi suatu komunikasi yang timbal balik antara kita yang berdoa dengan Tuhan sendiri.
  • Ketika kita berdoa, Tuhan berkenan mendengarkan doa kita, dan sebaliknya dalam doa ada saat dimana kita harus membuka hati untuk mendengarkan sapaan Tuhan yang menggema di dalam hati kita, melalui bacaan Kitab Suci atau melalui meditasi dan perenungan pribadi.
  • Sering terjadi, dalam berdoa kita hanya meminta-minta saja kepada Tuhan, dan dalam permintaan kita itu seolah kita memaksa Tuhan untuk mengabulkannya.
  • Doa yang kita ungkapkan hendaknya secara tulus kita nyatakan kepada Tuhan, bukan merupakan doa yang hanya terucap di mulut, namun tidak kita ungkapkan dengan sepenuh hati.
  • Doa yang kita ungkapkan dengan sepenuh hati dan dengan penuh iman, serta sesuai dengan kehendak-Nya, maka Tuhan akan senantiasa memberikan yang terbaik bagi kita.
  • Bagi umat katolik, teladan dalam hal doa tentulah Yesus sendiri.
  • Pada saat Yesus berusia dua belas tahun, Yesus menunjukkan prinsip hidup yang dimiliki-Nya. Kepada Bunda Maria dan Bapa Yusuf, saat mereka mencari-Nya, Ia berkata: ”Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Lukas 2:49). Ia harus berada di dalam rumah Bapa, berada bersama Allah Bapa menjadi prinsip hidup Yesus.
  • Yesus juga mengajarkan kepada kita tentang berbagai sikap yang baik dalam berdoa, serta isi doa yang baik seperti yang diajarkan-Nya kepada kita. Doa Bapa Kami adalah suatu warisan ajaran Yesus kepada kita, yang kita ucapkan dalam setiap doa-doa kita. Bahkan seringkali kita mempersatukan doa-doa kita dengan doa Bapa Kami yang telah diajarkan Yesus ini. Hal ini seperti terungkap dalam Injil Matius 6:5-15.
  • Doa Bapa kami merupakan salah satu warisan yang paling berharga, yang Tuhan Yesus berikan kepada kita. Melalui doa ini kita diajak oleh Kristus untuk memanggil Allah sebagai Bapa, sebab kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Doa ini mengandung tujuh permohonan yang terbagi mejadi dua bagian, yang pertama untuk memuliakan Tuhan (6:9-10) sedangkan bagian kedua untuk kebutuhan kita yang berdoa (6:11-13). Doa ini mengandung pujian/ penyembahan kepada Allah, penyerahan diri kita kepada-Nya, pertobatan dan permohonan.
  • Doa yang baik (menurut isi Birkat Hamazon) paling tidak berisi tiga hal, yaitu Pujian, syukur, dan Permohonan. Jadi dalam berdoa hendaknya kita tidak hanya meminta-minta saja tanpa ada unsur pujian dan syukur kepada Tuhan.
  • Berdasarkan teks-teks yang menunjukkan kesatuan Yesus dengan Allah, kita dapat menemukan kebenaran berikut ini:
    – Ia selalu menemukan kesempatan untuk berdua dengan Allah. Betapapun sibuk hidup-Nya, Ia tetap dapat ”naik ke atas bukit dan berdoa seorang diri” (Matius 14:23)
    – Ia selalu melibatkan Allah saat menghadapi peristiwa-peristiwa penting dalam hidup-Nya. Seperti: dalam peristiwa pembaptisan (Luk 3:21), saat memanggil para rasul-Nya. (Lukas . 6:12 – 13), saat menghadapi sengsara dan wafat-Nya. (Matius 26:36).
  • Sikap berdoa yang baik disampaikan oleh Yesus, yaitu:
    1) Masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.
    2) Dalam berdoa janganlah bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah.

Catatan penting buku guru agama katolik dan budi pekerti K13 Kelas 7

Berpacaran

  • Seiring dengan perkembangannya, seorang remaja akan memasuki relasi sosial yang semakin luas. Awalnya lebih senang bergaul atau membentuk kelompok dengan teman sejenis, lama kelamaan akan mulai merasa perlu untuk juga menjalin relasi dengan teman lawan jenisnya. Bahkan untuk menarik perhatian lawan jenisnya, remaja mencoba untuk menampilkan diri sebaik mungkin misalnya menjaga tutur katanya, menjaga penampilannya, juga mencoba untuk mempercantik diri agar lawan jenisnya tertarik.
  • Pertemanan yang mendalam dan khusus dengan lawan jenis, pada akhirnya akan terjalinlah hubungan khusus yang disebut dengan pacaran.
  • Berpacaran dapat diterima secara wajar karena hal itu perkembangan dari persahabatan sejati oleh dua orang yang berlainan jenis.
  • Remaja SMP perlu memahami secara benar tentang masalah pacaran yang baik, sehingga dampak negatif dari pacaran itu tidak terjadi, tetapi malah sebaliknya kita menjadi mampu menempatkan diri dengan baik dalam menjalin relasi dengan teman terlebih yang lawan jenis.
  • Pacaran yang sehat tidak hanya tertarik untuk menyenangkan diri, namun menuntut perlakuan yang hormat dan suci terhadap pacar. Artinya, pacar tidak diperlakukan sebagai alat untuk melampiaskan keinginannya. Pacaran hakekatnya adalah untuk mempersiapkan diri menuju perkawinan yang membahagiakan.
  • Alkitab memberikan beberapa pegangan yang jelas untuk membimbing kita dalam membuat keputusan mengenai soal pacaran, seperti:
    (1) Jagalah hatimu. Kitab Suci mengajarkan kepada kita untuk berhati-hati dalam memberikan/menyampaikan kasih sayang kita, karena hati kita mempengaruhi segala sesuatu dalam hidup kita. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)
    (2) Kamu akan menjadi seperti teman-temanmu bergaul. Kita juga cenderung menjadi seperti teman-teman sepergaulan kita. Prinsip ini berhubungan erat dengan yang hal yang pertama dan sama pentingnya dalam pergaulan seperti hubungan dalam pacaran. “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33)(3) Harus mengikuti standar moral Alkitab. Dalam Roma 12:12 dikatakan bahwa jangan kita menjadi serupa dengan dunia atau dengan kata lain jangan berpacaran ala orang dunia. Hendaknya dalam berpacaran mengikuti nasihat Injil, yaitu didasari kasih akan Allah. Percayailah Allah dalam segala hal karena Ia itu Mahatahu yang tentunya tahu apa yang menjadi kerinduan/kebutuhan kita bahkan Ia menjanjikan masa depan yang penuh harapan, lihatlah Yeremia 29:11; Amsal 23:18. Jadi pacaran yang benar harus di dasari dengan Kasih Allah sehingga orientasi pergaulan itu hanya ada di dalam tubuh Kristus.
  • Nasihat Kitab Suci yang juga harus diingat dalam berpacaran:
    1 Korintus 6:18 “Jauhkanlah dirimu dari percabulan!”
    2 Korintus 6:14 “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”

Catatan penting buku guru agama katolik dan budi pekerti kelas 7

Bersahabat

  • Pertemanan merupakan pergaulan biasa antarsesama. Pertemanan yang biasa tersebut, jika dilakukan lebih intensif, akan dapat meningkat dalam relasinya menjadi persahabatan. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa relasi dengan teman tentu saja tidak sedalam relasi kita dengan sahabat.
  • Sahabat adalah teman yang selalu ada untuk mendampingi ketika kita sangat membutuhkan. Memberi penghiburan ketika kita dalam kesusahan. Tidak membiarkan ketika kita berbuat salah. Ia hadir untuk memberikan nasihat. Ia menunjukkan arah ketika kita tersesat. Dia bersedia menerima kita apa adanya, tidak pernah menuntut melebihi kemampuan kita. Singkatnya, seorang sahabat adalah seorang yang setia menemani kita dalam suka dan duka.
  • Ajaran Gereja selalu menunjukkan dan mengajarkan bagaimana menjadi orang Katolik yang setia pada sahabat. Salah satu tokoh yang menunjukkan persahabatan yang sejati adalah “Persahabatan Daud dan Yonatan” (1 Sam 18:1-4).
  • 1 Samuel 18:1-4: Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri. Pada hari itu Saul membawa dia dan tidak membiarkannya pulang ke rumah ayahnya. Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri. Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya.
  • Beberapa sikap Yonatan yang terpuji dalam bersahabat dengan Daud misalnya: Yonatan tidak merasa persahabatannya harus hancur gara-gara hubungan antara Daud sahabatnya dengan ayahnya tidak baik, ia memandang persahabatan tidak dapat dicampuradukkan dengan urusan keluarga, ia berupaya jujur terhadap Daud dengan berani mengatakan segala sesuatu agar sahabatnya selamat, termasuk keberanian menceritakan sikap ayahnya kepada sahabatnya itu, bahkan Yonatan rela menyerahkan baju perangnya, pedang, panah dan ikat pinggangnya kepada Daud, padahal Yonatan adalah Putra Mahkota dan Daud dapat menjadi saingannya dan musuh ayahnya.
  • Kisah persahabatan Daud dan Yonatan dapat menjadi gambaran tentang arti persahabatan yang sejati. Persahabatan yang sejati adalah persahabatan yang sungguh-sungguh berorientasi pada orang yang dikasihinya. Orientasi ini memampukan diri untuk berbuat tanpa pamrih, berani meninggalkan diri sendiri demi sahabat yang tidak hanya bersama kala suka, tetapi tetap hadir terutama saat duka menimpa, bahkan bila perlu ia berani berkorban segalanya demi sahabatnya.
  • Mempunyai sahabat adalah dambaan setiap orang, karena setiap orang adalah makhluk sosial yang tidak dapat lepas dari orang lain yang senantiasa inginnya bahagia atau gembira bersama.
  • Sahabat adalah teman yang selalu ada untuk mendampingi ketika kita sangat membutuhkan.
  • Sahabat yang baik selalu memberi penghiburan ketika kita dalam kesusahan, hadir untuk memberikan nasihat, menunjukkan arah ketika kita tersesat, bersedia menerima kita apa adanya, dan tidak pernah menuntut melebihi kemampuan kita.
  • Beberapa sikap yang sering dapat menghacurkan persahabatan antara lain sebagai berikut: Egois atau mencari keuntungan sendiri, munafik atau sikap pura-pura, ketidakjujuran dan tidak setia.
  • Sebaliknya persahabatan yang baik akan menumbuhkan sikap: kasih cinta, terbuka, jujur, rela berkorban tanpa pamrih, saling memahami, setia dan tidak mencari keuntungan diri.

Catatan penting buku guru agama katolik dan budi pekerti K13 Kelas 7

Apa kata Alkitab tentang Persahabatan?

Berteman

  • “Tak kenal maka tak sayang”. Artinya, seseorang yang hidup hendaknya berteman, berelasi pada sesamanya agar dapat saling mengerti dan memahami sehingga memungkinkan timbulnya rasa kasih sayang yang mendalam dan murni.
  • Berteman dapat diartikan sebagai hubungan atau relasi, dimana terjadi antara dua orang atau lebih, baik itu seorang anak laki-laki dengan lawan jenisnya maupun dengan sejenisnya yang mempunyai tujuan untuk bersosialisasi ataupun untuk mencapai sesuatu yang mau dicapai bersama.
  • Di dalam berteman kita dapat menemukan ciri-ciri nya yaitu: ada relasi/hubungan timbal balik di antara kita semua yang menjalin pertemanan. Hubungan pertemanan dapat sebatas pada teman sepermainan, berusaha tidak saling mengecewakan, teman belajar.
  • Dalam proses berteman itu, tidak semuanya dapat berjalan lancar sesuai dengan apa yang diharapkan. Beberapa hal yang dapat menjadi hambatan dalam berteman antara lain: Egois, acuh tak acuh, munafik, kurang peka akan kebutuhan orang lain, pergaulan yang kurang luas, kurang mendapatkan perhatian sehingga tidak dapat memberi perhatian.
  • Ternyata untuk mengusahakan pertemanan yang indah, menggembirakan dan saling mengembangkan bukanlah hal yang mudah. Perlu ada usaha-usaha nyata untuk dapat menggapainya.
  • Santo Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (Fil 2:1-8) secara gamblang menjelaskan kepada kita tentang bagaimana hendaknya kita mengambil sikap dalam relasi/pertemanan dengan orang lain. “…hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.” (Fil 2: 2). Demikian pula dalam ayat berikutnya, Santo Paulus tetap dan senantiasa menasihatkan agar dalam membangun relasi dengan sesama (berteman) hendaknya menempatkan orang lain yang utama dari pada kepentingan diri sendiri.
  • Berdasarkan nasihat Santo Paulus, sikap yang perlu diusahakan untuk dikembangkan agar pertemanan kita menjadi indah dan menggembirakan antara lain: sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia, dan juga dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.

Catatan penting buku guru Agama Katolik dan Budi Pekerti Kelas 7

Peran Masyarakat bagi Perkembanganku

  • Istilah ”masyarakat” memiliki arti yang luas. Menurut Ilmu Sosiologi, masyarakat adalah keseluruhan yang konkret historis dari segala hubungan timbal-balik antara manusia dan macam-macam kelompok. Masyarakat tersusun menurut macam-macam kelompok, organisasi, dan anggota dengan status dan peranan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, hidup bermasyarakat harus diatur secara aktif dan adil. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan masyarakat demi perkembangannya.
  • Kesadaran bahwa dirinya bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat bagi remaja di perkotaan menunjukkan gejala yang menurun. Banyak remaja di perkotaan yang sudah tidak lagi mengenal tetangga, bahkan yang terdekat sekalipun, di kiri-kanan, depan belakang rumahnya. Hidup mereka seolah-olah berada di tanah asing.
  • Sementara remaja yang hidup di pedesaan masih mengenal masyarakat sekitar kampungnya. Sebagian mereka bahkan masih terlibat dalam berbagai aktivitas kampungnya dalam kebersamaan dengan seluruh warga.
  • Realitas ini perlu diwaspadai, karena bukan tidak mungkin remaja di pedesaan pun akan tergerus arus keterasingan itu. Padahal, dalam perjalanan hidup dan perkembangan seseorang, mereka yang tidak dapat melepaskan diri dari peran masyarakat.
  • Untuk memperkembangkan diri, manusia butuh figur, keteladanan, norma dan kebiasaan yang mendukung, yang menampilkan nilai-nilai positif. Demikian pula masyarakat harus dipandang sebagai medan bagi seseorang mengimplementasikan nilai-nilai, sikap dan pandangannya. Masyarakat adalah medan perwujudan iman. Di situlah hidup seseorang akan diuji.
  • Dalam masyarakat terdapat kebiasaan, orang yang ditokohkan, norma, adat istiadat, aturan, sikap dan pandangan pribadi maupun kelompok. Unsur-unsur tersebut perlu disikapi secara kritis.
  • Kita dapat belajar memiliki semangat berkorban dari tokoh masyarakat tertentu, tapi kita juga hati-hati karena ada orang byang ditokohkan tapi kehidupannya tidak patut.
  • Kita dapat belajar melakukan kebiasaan baik dalam masyarakat, seperti gotong royong bekerja bakti, tetapi jangan sampai kita ikut-ikutan beramai-ramai memukuli pencuri tanpa proses hukum hanya untuk menunjukkan solidaritas dengan warga.
  • Hidup bermasyarakat mengandaikan: kita mau hadir dan hidup bersama dengan mereka, terlibat dalam aktivitas mereka dan memenuhi kewajiban yang benar yang ada dalam masyarakat, tetapi tetap perlu bijak dan mendasarkan segala sesuatu pada kebenaran.
  • Dalam Dokumen Konsili Vatikan II tentang Gereja dalam Dunia Dewasa ini (Gaudium et Spes) artikel 25 ditegaskan, bahwa “pertumbuhan pribadi manusia dan perkembangan masyarakat sendiri saling bergantung”. Hidup di tengah dan bersama masyarakat bukanlah suatu kewajiban, tetapi merupakan kodrat yang tidak dapat dipungkiri. Ia melekat sebagai keharusan hakiki, karena tanpa itu semua ia tidak akan dapat hidup dan berkembang. Tetapi kehadiran kita di tengah dan bersama masyarakat tidak dapat dilepaskan dari iman kita akan Yesus Kristus.
  • Gereja mengajarkan agar iman akan Yesus Kristus itu mampu menjadi landasan dan motivasi yang kuat dalam kehadiran dan keterlibatan dalam masyarakat. Umat beriman Kristiani tidak boleh tergerus arus masyarakat begitu saja. Ia harus mampu mewarnai masyarakat dengan nilai-nilai Kerajaan Allah yang telah diperjuangkan oleh Yesus Kristus. Ia harus mampu menjadi garam, ragi, dan terang dalam masyarakat.
  • Melalui pelajaran ini, peserta didik hendak dihantar agar menyadari dirinya sebagai warga masyarakat. Dalam pergaulan dalam masyarakat itu, ia dapat belajar dari adat-istiadat, kebiasaan, norma, keteladanan yang ada dalam kehidupan masyarakat; dengan tetap bersikap kritis yang bersumber pada ajaran Gereja. Mereka dipanggil untuk berperan aktif dalam kehidupan masyarakat, sesuai dengan kemampuan, tugas dan fungsi kita di dalamnya.
  • Dekrit tentang Karya Misioner Gereja (Ad Gentes) Artikel 11:

    Sebab segenap umat beriman kristiani, di mana pun mereka hidup, melalui teladan hidup serta kesaksian lisan mereka wajib menampilkan manusia baru, yang telah mereka kenakan ketika dibaptis, maupun kekuatan Roh Kudus, yang telah meneguhkan mereka melalui sakramen Krisma. Dengan demikian sesama akan memandang perbuatan-perbuatan mereka dan memuliakan Bapa (lih. Mat 5:16), dan akan lebih penuh menangkap makna sejati hidup manusia serta ikatan persekutuan semesta umat manusia.

Supaya kesaksian mereka akan Kristus itu dapat memperbuahkan hasil, hendaklah mereka dengan penghargaan dan cinta kasih menggabungkan diri dengan sesama, menyadari diri sebagai anggota masyarakat di lingkungan mereka, dan ikut serta dalam kehidupan budaya dan sosial melalui aneka cara pergaulan hidup manusiawi dan pelbagai kegiatan.

Hendaknya mereka sungguh mengerti tradisi-tradisi kebangsaan dan keagamaan mereka, dan dengan gembira serta penuh hormat menggali benih-benih Sabda yang terpendam di situ. Tetapi sekaligus hendaknya mereka memperhatikan proses perubahan mendalam, yang sedang berlangsung pada bangsa-bangsa itu, dan ikut mengusahakan, supaya orang-orang zaman sekarang jangan terlampau memperhatikan ilmu-pengetahuan serta teknologi dunia modern, sehingga terasingkan dari nilai-nilai ilahi, bahkan supaya mereka dibangkitkan untuk semakin intensif merindukan kebenaran dan cinta kasih yangn diwahyukan oleh Allah.

Catatan penting buku guru agama katolik dan budi pekerti kelas 7